TANJUNG SELOR – Kondisi Sungai Selor dan sungai buaya dipinggiran kota Tanjung Selor, Bulungan, semakin memprihatinkan. Pasalnya, kedua anak sungai Kayan itu mengalami pendangkalan cukup parah sehingga menjadi daratan baru apalagi sebagian besar badan telah ditutupi tanaman eceng gondok sepanjang kawasan pemukiman Kampung Arab, Gang Mualaf hingga sekitar Kuburan China.
Ketua komisi III DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), Albert Baya menegaskan, kondisi ini diyakini menjadi masalah baru termasuk kondisi sosial warga yang tinggal disekitar bantaran sungai tersebut.
“Setiap minggu hingga tiap tahun jumlah penduduk yang tinggal di bantaran sungai itu terus bertambah, ada dua hal yang harus segera dilakukan yakni normalisasi sungai atau dibiarkan saja sampai menjadi daratan baru,” tegasnya, Minggu (4/4/2021)
Dijelaskannya, pada informasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kaltara kawasan tersebut masuk sebagai daerah aliran sungai (DAS) namun kondisinya tidak sesuai apalagi sebagian besar wilayah sungai itu menjadi daratan baru.
“Faktanya, sungai itu jadi daratan artinya tidak sesuai fungsinya lagi. Masalah sosial lainnya yang timbul yakni munculnya kawasan pemukiman baru diwilayah itu jangan sampai kondisi ini terjadi seperti di sungai Karang mumus di Samarinda,Kaltim,” jelasnya.
Lanjutnya, Pemkab Bulungan bersama Pemprov Kaltara diharapkan bisa bersinergi untuk menyelesaikan masalah ini, jika kemampuan keuangan daerah tidak mampu menyelesaikannya kan bisa diusulkan atau diperjuangkan ke pemerintah pusat.
“Setidaknya kepala daerah membuat telaah perencanaannya dulu,” kata politisi PDI Perjuangan ini.
Ia menambahkan, tim ahli nantinya dapat membuat telaah dari hasil di lapangan untuk mengetahui apakah sungai itu perlu dinormalisasi ataukah dijadikan sebuah daratan untuk kawasan pemukiman baru.
“Ini harus segera dikerjakan apalagi ini jadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemkab Bulungan maupun pemprov Kaltara, jika tidak ini akan jadi bom waktu pada dua tahun kedepan,” pungkasnya.(*)












Komentar