oleh

Dukungan Calon Ketua KONI Kaltara Diperdebatkan, Wartawan Sempat Dilarang Masuk

TANJUNG SELOR – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), menggelar Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) ke-III di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan pada Jumat 17 Maret 2023.

Musorprov yang digelar selama tiga hari ini dihadiri oleh pengurus KONI Pusat dan KONI Kaltara serta jajaran pengurus provinsi (Pengprov) cabang olahraga (Cabor).

Saat persidangan pembahasan tata tertib Musyawarah, peserta sempat mempertanyakan syarat dukungan yang ditetapkan Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) bakal calon Ketua Umum (Ketum) KONI Kaltara Masa Bakti 2023-2027. Seperti, syarat dukungan dari 2 KONI Kabupaten/Kota dan 30 persen dukungan tertulis dari Pengprov Cabor sebagai anggota KONI.
 Tardiwan Utama
Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Organisasi KONI Pusat, Mayjen TNI  (Purn) Andrie Tardiwan Utama membenarkan jika dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) KONI (Pasal 27,red) tidak menyebutkan jumlah prosentase syarat dukungan calon ketua umum KONI di daerah.

Baca Juga  Komisi IV DPRD Kaltara Fokuskan Penanganan Stunting di Perbatasan

“Memang benar dalam AD ART tidak menyebutkan prosentase syarat dukungan yang terpenting memiliki kemampuan manajerial atau kredibel, bisa mengayomi dan mendapat dukungan dari peserta (cabor) yang ada disini. Apalagi, masing-masing daerah miliki jumlah Cabor berbeda-beda,” ungkapnya.

Andrie mengatakan, beberapa KONI di daerah ada yang menetapkan syarat dukungan 20 hingga 50 persen. Namun, telah disepakati oleh peserta musyawarah.

“Bahkan ada yang menerapkan tidak ada dukungan tapi itu berbahaya, bisa saja yang tidak dikenal atau tidak didukung jadi ketua karena menggunakan uang saat pemilihan, nah itu yang repot. KONI pusat mengambil jalan tengah yakni minimal 30 persen syarat dukungan,” ujarnya.

Baca Juga  Surabaya Gelar Vaksinasi COVID-19 "Drive Thru"

Pria yang pernah menjabat Deputi I/Bidkoor Poldagri, Kemenko Polhukam itu menegaskan, TPP Caketum KONI Kaltara sudah bekerja maksimal dan mematuhi aturan sebelum Musorprov digelar.

“Hanya saja memang TPP tidak melakukan sosialisasi melalui raker, kemungkinan karena situasi seperti Pandemi (COVID-19) serta kesibukan gelar Porprov dan waktu perpanjangan kepengurusan yang singkat,” tegasnya.

Selain itu, bakal calon semestinya menolak syarat itu sebelum musorprov ini di gelar. Selama ini KONI Pusat menilai tidak ada persoalan sejak pendaftaran calon ketua dibuka.

“Masalah dukungan ini muncul setelah ada satu KONI Kabupaten menarik dukungan kepada salah satu calon dan itu sah, selama yang menarik dukungan itu disetujui ketua KONI Kabupaten. Penarikan dukungan itu dilakukan minimal 2 minggu sebelum pemilihan,” pungkasnya.

Baca Juga  Ketum SMSI Firdaus: Pers Merdeka Kunci Demokrasi Sehat, 16 Tokoh Diganjar Anugerah 2026

Sementara itu, Gubernur Kaltara Zainal A Paliwang menegaskan, KONI Kaltara harus bekerja maksimal melalui perencanaan pengorganisasian dan manajerial organisasi termasuk memilih pengurus KONI yang akan bertugas untuk lima tahun ke depan.

“Mengingat pentingnya kegiatan ini saya minta kepada para peserta untuk dapat terus mengedepankan musyawarah mufakat. Janganlah ada pemaksaan kehendak atau keinginan sehingga ke depannya berjalan semakin baik,” harap Gubernur.

Untuk diketahui, perhelatan Musorprov ini dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Meski diijinkan oleh panitia, sejumlah wartawan yang ingin meliput sempat dilarang masuk ke ruangan.(*)

Editor : Victor Ratu

News Feed